Cari Blog Ini

Selasa, 22 Mei 2018

“Mencuri Ilmu” Manajer Club Bola….



Apakah Anda mengenal nama-nama manajer club bola seperti Mourinho, Arsene Wenger, dan Aririgo Sacchi?
Ya… mereka inilah beberapa manajer club bola top yang tidak top ketika menjadi pemain bola. Nama-nama yang tidak diragukan lagi di dunia pelatih bola yang tidak kalah hebat dibandingkan dengan pelatih-pelatih lain yang memiliki nama besar ketika menjadi pemain.
Jose mourinho “the special one” adalah sosok pelatih nyeleneh yang tidak pernah memedulikan apa kata orang. Tehitung tim-tim besar pernah ditanganinya. Inter Milan, Real Madrid, dan Manchester United adalah beberapa club yang pernah ditanganinya. Sebagai pemain, dia hanya pernah bermain untuk beberapa club portugal. Namanya tidak pernah terdengar sebagai pemain. Arsene Wenger “sang legendaris” Arsenal, ketika menjadi pemain hanya memperkuat tim-tim amatir di Perancis. Dan yang lebih mengherankan, Aririgo Sacchi “si penjual sepatu” yang hanya bermain untuk tim Fusignano CF dan Bellaria di Italia, yang nama clubnya saja mungkin Anda baru mendengarnya sekarang. Sacchi yang pada umur 20 memutuskan pensiun dari pemain bola karena merasa tidak berkembang, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menjadi sales sepatu dan menonton pertandingan bola. Namun, yang pertandingan yang paling dia sukai untuk ditonton adalah pertandingan tim-tim yang cenderung berkarakter menyerang. Hal ini lah yang akhirnya mempengaruhi pola pikirnya dalam menerapkan strategi ke tim-tim yang ditanganinya. Berbeda dengan kebanyakan karakter manajer bola asal Italia yang cenderung memiliki filosofi bermain bertahan. Parma dan AC Milan adalah club yang pernah ditanganinya, juga timnas Italia yang menjadi runner up piala dunia 1994. Tercatat juga banyak manajer ternama yang tak lepas dari gaya permainan Sacchi. Sebut saja Fabio Capello, Carlo Ancelotti, dan Frank Rijkaard adalah beberapa pemain yang pernah diasuhnya dan kemudian menjadi manajer club.
Dari mana kemampuan mereka mengelola sebuah tim besar jika pengalaman sebagai pemain, mereka tidak miliki?Tentu saja dari belajar, baik secara otodidak maupun jalur resmi sekolah. Begitu juga manajer sebuah perusahaan. Terlepas dari dia pernah menjadi karyawan atau tidak, selama dia mau belajar dan mengasah skilnya, saya rasa akan bisa menjadi seorang manajer yang hebat.
Menemukan “calon pemain bintang” adalah keahlian paling dasar para manajer sepakbola. Mana pemain yang skil individunya bagus dan yang lebih penting cocok dengan strategi yang akan diterapkan tim harus diketahui. Mereka bahkan bisa melihat fisik dan postur calon pemain yang akan dipilihnya. Mereka juga bisa melihat psikologis pemain melalui rasa kecintaan bermain bola apakah menjadi darah daging ataukah hanya menjadi kulitnya saja. Mengapa menyusun pemain dalam sebuah tim menjadi yang paling dasar? Tentu jawabannya karena para pemain pilihan inilah yang nantinya akan menjadi eksekutor rencana strategi yang akan diterapkan oleh manajer. Sebaik apapun strategi yang dipilih jika tidak ditunjang dengan pemain yang pas, tentu akan sia-sia. Begitu juga sebaliknya. Sebagai manajer sebuah perusahaan, bisa memilih tim yang tepat, maka sebenarnya kita telah menyelesaikan 50% pekerjaan.
Terlepas dari penyusunan, penerapan, dan pengontrolan strategi yang diterapkan dalam sebuah pertandingan, saat lain yang sangat berperan dari seorang manajer bola adalah saat injury time, masa perpanjangan waktu dan adu pinalti. Kemampuan manajer bola ditentukan dalam melakukan rotasi pemain dan menentukan urutan penendang pinalti. Pada pertandingan 2 x 45 menit, pelatih akan memilih pemain dengan skill terbaik.  Pada saat injury time, perpanjangan waktu, dan pinalti, manajer akan memilih pemain yang punya “mentalitas” paling jago. Ketika hal ini diimplementasikan dalam sebuah perusahaan, saat krisis dan kritis, seorang manager harus bisa memilih pemain yang mentalitasnya matang dan tidak baperan. Mentalitas yang kokoh yang tidak dapat dirusak oleh kondisi lingkungan dan persaingan yang semakin keras. Tidak ada gunanya memilih pemain yang memiliki skill hebat tetapi emosi dan mentalnya loyo.
Bisa jadi, Perancis gagal menjadi juara dunia 2006 karena manajer Raymond Domenech salah memasang David Trezequet sebagai penendang ke-3. Sebagai pemain muda, Trezequet belum siap untuk menanggung beban mental yang begitu berat. Seluruh warga Perancis menaruh harapan di kaki kananya. Dan dia melakukan tendangan ke arah kiri dengan sangat keras sementara sudut elevasi kakinya salah. Akibatnya bola membentur tiang gawang dan dialah penyebab Perancis kalah atas Italia.
Banyak manajer sering mengambil keputusan yang “populis” dan mengikuti pendapat umum agar kalau pun salah reputasi pribadinya tidak “ikut kalah”, namanya tidak jelek dinilai perusahaan.  Dan dia masih dinilai layak menduduki posisinya. Seorang manajer yang hebat seharusnya mengabaikan penilaian orang terhadap reputasinya. Berani mengambil keputusan tanpa mempedulikan penilaian luar dan tetap berpegang teguh pada goal dan tujuan, yakni kemenangan dan sukses perusahaan. Jika sudah sukses, mereka akan berbalik menganggap keputusan “tidak populer Anda” sebagai sebuah INOVASI!
Ketika David Beckam tidak dimasukkan ke Timnas Inggris suara protes muncul dari semua kalangan. Namun, tidak untuk seorang Alex Ferguson. Dia menilai bahwa Beckam bukanlah pemain bola lagi. Hakikat pemain bola adalah bermain tim, dan Beckamp sudah menjadi artis baik di dalam maupun di luar lapangan. Sebagai seorang manajer, kita pun harus berani mengeluarkan anggota yang tidak bisa menjadi ” team player”. Yang tidak mengutamakan pencapaian tujuan bersama melainkan “ambisi pribadinya”, dan yang lebih parah lagi “perasaan pribadinya”.
Yang terpenting, para manajer bola tidak bermain saat eksekusi dan membebaskan kreatifitas para pemainnya, namun tetap menjagakan sesuai pola bermain yg telah ditetapkan. Sebagai manajer perusahaan juga demikian. Janganlah ikut terlalu “bermain” ketika tim kita melakukan eksekusi. Terlalu directing, dan  bahkan semuanya harus sesuai ”gaya” dan ” selera” manajer hanya akan menjadikan pergerakan tim menjadi kaku dan lamban. Para manajer bola yang baik selalu sadar bahwa akhirnya permainan bola adalah “people game” dimana pengelolaan talent menjadi kuncinya.

Senin, 12 Desember 2016

Segmentasi, Targeting, Positioning (STP) + 4P: Marketing harus menguasainya


Sebuah perusahaan yang beroperasi dalam suatu pasar, pastinya tidak dapat melayani seluruh pelanggan dalam pasar tersebut. Pelanggan terlalu banyak, berpencar sangat luas, dan memiliki beraneka ragam kebutuhan. Perusahaan yang sudah ada yang pada hakikatnya adalah para pesaing kita, mungkin  sudah memiliki posisi yang lebih baik dan lebih kuat untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Ada yang menggarap segmen yang luas dan ada yang mengerucutkan pasar menjadi beberapa segmen pasar tertentu yang lebih kecil.

Rabu, 04 Mei 2016

Mengenal Bentuk Komunikasi Dalam Tim




Kali ini kita akan diskusi mengenai bentuk-bentuk komunikasi dalam sebuah tim atau organisasi dan bagaimana kira-kira implementasi dan akibat dari bentuk komunikasi tersebut.  Rujukan akan tipe-tipe ini adalah 5 gaya komunikasi menurut Steward L.Tubbs dan Sylvia Moss. Apa sajakah itu?
 Tidak hanya satu gaya komunikasi yang bisa dipakai, seorang pemimpin harus mampu membedakan dan menggunakannya sesuai goal dari komunikasi dilakukan.

KETIKA ANAK HARIMAU TURUN GUNUNG




Ketika kita sedang di puncak gunung, ada tiga kemungkinan bisa terjadi. KITA MENJADI SASARAN TEMBAK, KITA DIIKUTI, ATAU MALAH DIHINDARI. Ketiga hal yang menurut saya pribadi tidak enak!

JADI SASARAN TEMBAK, berarti kita diserang secara langsung. Kelemahan produk dan strategi pemasaran kita akan dicari dan diserang oleh pesaing. Biasanya serangan ini dilakukan dengan transparan dan tanpa ditutup-tutupi (Head On). Biasanya dilakukan oleh perusahaan yang secara kapital/keuangan “merasa” lebih kuat dan besar yang terancam oleh keberadaan ANAK HARIMAU di puncak gunung tersebut. Namun, biasanya serangan ini tidak rasional dan mebabi buta. APAKAH KITA PERLU MENYERANG BALIK? Saya rasa tidak! Dengan kemampuan dan kekuatan yang sekarang kita miliki yang tidak dimiliki oleh pesaing seharusnya bisa menjadi kekuatan. Brand Awareness….. kepada siapa? Tentunya kepada relasi/customer dan consumen kita (2C). Dengan tetap menjaga kualitas dan inovasi produk, menciptakan relationship dengan customer melalui REALISASI RENCANA KERJA SAMA yang sudah disepakati, dan hal-hal lain yang menimbulkan adanya LOYALITAS 2C pasti bidikan dan serangan tersebut hanya akan menjadi serangan tanpa penhitungan yang merugikan dirinya sendiri. Tidak perlu kita mengikuti strategi serangan tersebut karena sebenanrnya mereka masih mencoba “belajar menerkam lagi setelah lama tertidur dan tidak mengaum”. Lama sudah terlena ini sebenanrnya yang menyebabkan kuku-kuku merkea tidak tajam dan senapan mereka mungkin sudah karatan. Seharunya mereka mengasah dan membersihkan dulu kekuatan senjata yang dimiliki. Mereka menjadi tidak fokus untuk mencari dan menyerang  mangsa buruan yang empuk sendiri tetapi juga menyerang  si ANAK HARIMAU agar tidak banyak menerkam mangsa. JADI sebagai ANAK HARIMAU YANG SEKARANG ADA DIPUNCAK, harus sering TURUN GUNUNG. Berdiam dipuncak tentu akan membuat pesaing mudah membidik dan mengarahkan senapannya. Turun gunung bukan diartikan menurunkan wilayah kekuasaannya (market share) tetapi lebih sesekali turun untuk memastikan semua strategi yang akan dijalankan berjalan sesuai rencana dan kesepakatan, melakukan evaluasi-evaluasi, dan segera bertindak begitu rencana meleset dari perkiraan.  Biasanya harimau yang sudah di puncak cenderung terlena dan tertidur.

Kamis, 23 April 2015

PARADOKS GAJI & BENEFIT

Bangga dan senang rasanya ketika obrolan di markas sudah berkembang ke pengetahuan-pengetahuan manajemen... Gak melulu membahasa omzet dan batu akik. Gak tahu kesurupan setan apa, pulang-pulang dari roadshow Sumatera, salah satu partner saya ini (sebut saja namanya si SIGIT) jadi keranjingan mengamati hal-hal yang berbau manajemen dan mengajak diskusi....kadang berdebat juga sih.... SERU!
Mungkin saja, si Sigit ini di Sumatera ketemu rekan-rekan kelas dewa pada bidangnya.....

Jumat, 17 April 2015

CATATAN KESOMBONGAN (saya)

Mohon maaf sebelumnya.
Coretan saya kali ini tidak bermaksud menyinggung siapapun. Hanya sekadar catatan untuk mengingatkan diri saya sendiri.

Sedikit buka-buka kamus dan menemukan kata "sombong". Secara sederhana dapat diartikan menghargai diri sendiri secara berlebihan. Congkak, pongah, angkuh, dan takabur mungkin masih satu kelas dengan kata sombong.
Seringkali saya secara sadar atau tidak sadar, secara sengaja atau tidak sengaja, mengamati, melihat, dan merasakan sikap orang-orang disekitar saya. Bermacam-macam tingkah polah, baik perkataan, perbuatan, dan bahkan sikap seseorang secara subyektif saya nilai merupakan salah satu bentuk kesombongan. Tidak adil memang, hanya dari gerak-geriknya, sikap diamnya, atau malah tampilannya, saya cap orang tersebut sombong. Saya jadi berfikir, jangan-jangan seringkali saya juga dicap demikian oleh teman-teman saya atau oleh orang-orang yang pernah berinteraksi dengan saya.
Menurut pikiran saya sendiri dan berdasarkan kesimpulan yang saya buat sendiri setelah saya mengamati diri sendiri, ada beberapa hal yang mungkin membuat saya sombong.

CATATAN SEORANG MANAJER



Manajer yang “hebat” tentunya yang berhasil melakukan perubahan besar dan berkontribusi dalam memimpin pencapaian keberhasilan tim yang dipimpinnya.  Secara alami dia berhasil menggerakkan anggota tim dan membawa mereka ke proses pencapaian tujuan secara kontinyu.

Disarikan dari berbagai sumber dan hasil pelatihan yang pernah saya ikuti, mungkin beberapa catatan ini bermanfaat untuk menjadi Great Manager. Mari kita belajar bersama.

CATATAN SEORANG LEADER



Setelah lama tidak corat-coret.... Gak ada angin, gak ada geledek.... Eh, tiba-tiba ingin iseng lagi...

---))- 
Setiap tim pasti butuh leader. Semakin besar sebuah tim, maka akan semakin besar pula leadership diperlukan. Dan sepenuhnya kita sadar bahwa setiap dari kita memiliki gaya leadership yang berbeda. Menurut saya sendiri, tidak ada yang benar dan salah dalam gaya leadership masing-masing orang. Yang menjadi pembahasan tentu bukan salah dan benar ini, namun lebih ke “seperti apa tim yang kita pimpin”.
Ketika berpikir tentang cara terbaik untuk memimpin sebuah tim, kita harus mempertimbangkan beberapa faktor yang berbeda, dan tentunya akan sangat mudah memilih pendekatan yang salah. Ketika hal ini terjadi, maka moral, efektivitas, dan produktivitas akan memburuk. Sebuah terori leadership bisa saja membantu kita mengidentifikasi pendekatan yang efektif dalam kepemimpinan, berdasarkan apa yang anggota tim inginkan dan situasi kita sendiri saat ini.
Seorang kawan pernah bercerita bahwa setiap leader mempunyai tanggung jawab, yakni membantu anggotanya mencapai tujuan (goal), mendukung dan memotivasi mereka. Sebagai seorang pemimpin kita dapat melakukannya dengan cara:
  1. Membantu Tim mengidentifikasikan dan menggapai tujuan
  2. Membersihkan hambatan dan halangan sehingga kinerja tim akan meningkat
  3. Menawarkan apresiasi dan imbalan yang sesuai dengan pencapaian
Dengan tanggung jawab tersebut maka kita dapat memilih dan menyesuaikan kriteria leadership yang dipergunakan dalam mengelola tim.

1.  Beban Tugas Tim yang Berulang dan Penuh Tekanan
Ketika beban tugas anggota tim selalu bersifat pengulangan, saya rasa seorang leader harus berfokus pada hubungan personal dengan tim. Kita harus dapat menunjukkan kepekaan terhadap kebutuhan anggota tim individu, dan kita dapat mempertimbangkan ketertarikan terbesar anggota tim kita. Gaya leadership seperti ini adalah yang terbaik manakala diperuntukkan bagi tugas-tugas yang berulang atau penuh tekanan sehingga anggota tim tidak merasa diperas dan ditekan. Gaya kepemimpinan ini disebut Supportive Leadership.

2.  Beban Tugas Tim yang Tidak Terstruktur
Beban kerja yang seperti ini lebih tepat dipimpin dengan gaya Direct Leadership (Langsung). Kita berkomunikasi pada semua anggota tim langsung berbicara mengenai tujuan dan harapan, serta pemberian/instruksi tugas yang jelas. Gaya ini paling tepat diterapkan bila beban tugas tidak terstruktur, atau ketika tugas yang kompleks dan anggota tim yang kurang berpengalaman.

3. Beban Tugas yang Komplek dan Tim sudah Berpengalaman
Ketika beban tugas yang kita berikan kompleks dan anggota tim kita sudah punya pengalaman, gaya “partisipasi” saya rasa bisa kita terapkan. Kita fokus pada partisipasi bersama setiap anggota. Kita meminta pendapat tim kita, dan  juga mempertimbangkan ide-ide dan keahlian mereka sebelum membuat keputusan. Dengan semakin “diorangkan” setiap anggota tim yang sudah tahu cara menjalankan tugasnya hanya butuh disentil dengan meminta dan memberikan mereka umpan balik. Gaya ini bisa disebut Partisipatif Leadership.

4.  Beban Tugas yang Menjemukan dan Kurang Menarik bagi Anggota Tim
Beban tugas yang demikian akan membuat tim kita kehilangan motivasi bekerja. Sebagai leader kita bisa menerapkan “Kepemimpinan Berorientasi Prestasi”. Kita menetapkan tujuan yang menantang untuk tim, kita buat standar yang tinggi untuk semua orang, dan kita berikan reward atas prestasi yang dicapai. Gaya ini bekerja paling baik bila anggota tim kurang termotivasi atau kurang tertantang dalam pekerjaan mereka.

Minggu, 12 Desember 2010

Menyadap Ilmu Manajemen Binatang

Masyarakat kita ternyata menerapkan metafora yang diilhami oleh binatang. Jika bicara Indonesia, entah benar apa tidak, banyak nama-nama tokoh yang tercatat di sejarah memakai nama binatang. Sebut saja, Gajah Mada, Lembu Sora, Hayam Wuruk, Lambung Mangkurat (dari kata lambu-lembu), Nara Singha Murti, Tiung Wanara, dll. Mungkin nama-nama tersebut untuk menggambarkan karakter tokoh bersangkutan.

Berkembang ke zaman modern, nama binatang digunakan sebagai nama merk bisnis, sebut saja Toyota Kijang, Mitsubishi Kuda, Isuzu Panther, Kacang Garuda, Merpati Airlines, Garuda Airways, Kacang Dua Kelinci, Kecap Bango, dll. Binatang dipakai juga dalam logo perusahaan atau organisasi, misalnya kuda laut (pertamina lama), rajawali (RCTI), ikan terbang (Indosiar), banteng (PDIP), dll. Logo binatang ini mungkin untuk menggambarkan karakteristik masing-masing organisasi tersebut.

Bahkan istilah-istilah populer juga menggunakan metafora binatang. Dalam bidang ekonomi, pasar lesu diistilahkan dengan BEARISH, pasar bergairah diistilahkan dengan BULLISH. Masih segar dalam ingatan kita kejadian CICAK dan BUAYA, atau orang seperti Gayus disebut TIKUS-TIKUS Kantor.

Bukan bermaksud belajar dari binatang, tetapi lebih mengambil perumpamaan dari sifat dan karakter binatang yang kemudian kita metaforakan menjadi "lesson learned" dari fenomena binatang. Personal yang cerdik dan banyak akal mungkin bisa dimetaforakan sebagai kancil, personal yang licik dan susah dipegang mungkin diperumpamakan sebagai ular, dan orang yang kuat dan tangguh mungkin dikiaskan sebagai banteng.

Begitu juga dalam organisasi, tim yang kompak dan memiliki kerjasama yang bagus disamakan dengan lebah, semut, atau penguin. Tim yang penuh perhitungan, disiplin, dan cepat berindak jika sudah pasti disamakan dengan buaya. Tim yang cerdik, licin, dan cepat mengantisipasi perubahan disamakan dengan tikus.

Belajar dari buku Animal Based Management, beberapa karakter binatang ternyata bisa digunakan untuk mempelajari karakteristik/strategi organisasi dan perusahaan besar yang mungkin bisa dijadikan pembelajaran untuk diterapkan di organisasi/perusahaan kita.

1. Bermusyawarah, kolaboratif, keputusan kolektif, diperumpamakan sebagai PENGUIN. Prinsip kerja sama tim seperti ini ternyata diterapkan oleh Wikipedia, YouTube, Wal-Mart, dan Linux.

2. Bahu membahu, bekerja kompak dan tim yang solid, tetapi tetap menerapkan kompetisi internal dengan semangat tetap saling menguntungkan (win-win, bukan zero-sum) diperumpamakan sebagai SEMUT. CNI, Coke dan Pepsi, Esia mungkin beberapa perusahaan yang menjalankan prinsip ini.

3. Berani bertindak (memulai) dan memiliki semangat bebas dari tekanan dan kondisi yang ada dikiaskan sebagai BURUNG. Dengan kemapuan terbang dan jangkauan pandangan dari atas, diibaratkan burung memiliki kebebasan menggapai mimpinya. Dengan melihat ke bawah yang semuanya terlihat kecil, terbang boleh jadi mendatangkan perasaan supremasi. Perusahaan yang tepat dengan filosofi burung adalah Mustika Ratu dan Blue Bird ketika mulai membangun bisnisnya hingga sekarang.

4. Setia, penuh penuh perhatian, dan loyal pada konsumennya diibaratkan sebagai ANJING. Hewan ini memiliki empati yang sangat besar. Perusahaan yang mungkin menerapkan cara ini adalah Sido Muncul, Nokia, dan Lion Air. Ketiga perusahaan ini menjalankan empathic design untuk memnuhi kebutuhan pelanggannya.

5. Cerdik, cepat melakukan antisipasi, selalu bergerak keluar dari comfort zone, dan siap menghadapi perubahan, cocok dengan karakteristik TIKUS. Dalam buku Who Moved My Cheese? Dapat ditarik pelajaran bahwa perubahan tak terelakkan, yang bisa dilakukan untuk terus bertahan hanyalah cepat melakukan antisipasi dan bertindak untuk mengubah situasi. Perusahaan yang memiliki karakteristik seperti ini adalah Apple, Amazon, dan Es Teler 77.

Dan masih banyak lagi metafora-metafora dari binatang yang bisa kita sadap ke dalam penerapan ilmu manajeman. Termasuk yang manakah organisasi/perusahaan Anda?

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 27 November 2010

Rahasia Pikiran Bawah Sadar Konsumen

Bangun tidur, saya melihat majalah langganan yang tergeletak di samping TV. Antara mau nonton atau membuka-buka isi majalah yang sepertinya baru ditaruh oleh mbaknya anak-anak.
"Foto di cover yang aneh", pikir saya. Tidak seperti biasanya, cover yang sekarang ini mengusik saya untuk mengambilnya. Biasanya majalah ini gambar covernya ilustrasi berwarna warni yang menggambarkan tema utamanya, atau kadang-sekumpulan produk yang menurut saya "tumpangan"  iklan yang berharga sangat mahal.
Aneh... sekumpulan orang dengan baju rapi layaknya karyawan sebuah perusahaan sambil mengepalkan tangan. Ekspresi wajahnya penuh semangat. Judunya "10 PERUSAHAAN TERNYAMAN PILIHAN KARYAWAN". "Wah.... Menarik nih", pikir saya.
Sejak 2003 bekerja di kantor sebuah penerbitan, saya merasakan sesuatu yang mungkin sama dengan orang-orang di cover majalah tersebut. Nyaman, merasa dihargai, sehati, cocok, atau apa pun lah yang menggambarkan saya senang bekerja di perusahaan tersebut. Saya mencoba membuka-buka halaman demi halaman majalah tersebut. Terbesit dalam pikiran saya untuk segera mengetahui cerita perusahaan-perusahaan yang sudah diliput oleh wartawan majalah tersebut.
Namun, baru beberapa halaman....pikiran saya kembali terusik oleh satu tulisan yang mengupas sebuah buku. THE BUYING BRAIN...waduh kok pas banget dengan tren buku di salah satu penerbit kantor yang memang lagi getol menerbitkan buku-buku tentang rahasia dan potensi otak. Saya mulai baca tulisan tersebut, tapi sepertinya kurang menarik, atau mungkin didepannya terlalu bertele-tele. Tanpa sadar, otak saya memerintahkan mata untuk melirik tulisan paling akhir.

" Jadi, jika hanya mendengarkan laporan yang mereka (konsumen) artikulasikan-seperti yang dihasilkan penelitian survey- tentang apa yang mereka suka dan tidak suka, kita mungkin tersesat. Kesalahan inilah yang membuat sekitar 80% produk baru gagal di pasar."

Waduh.... Benarjuga ya...
Selama ini memang banyak produsen-produsen yang melakukan survey baik dilakukan sendiri maupun melalui lembaga survey yang pastinya dengan biaya yang lumayan. Tanpa kita sadari bahwa apa yang konsumen atau calon konumen ungkapkan melalui mulut dan tulisan belum tentu sesuai dengan otak bawah sadarnya. Bisa saja karena hal tertentu, para konsumen mengungkapkan keinginan yang belum tentu juga berasal dari bawah sadar otaknya.
Lalu bagaimana cara mengenali pikiran bawah sadar konsumen? Menurut buku ini adalah dengan konsep neuromarketing yang pada dasarnya adalah mempelajari sinyal otak ketika konsusmen melihat sebuah produk. Lebih jelasnya semoga ada di halaman-halaman buku ini (saya juga belum baca).
Yang jelas, hasil dari konsep neuromarketing bisa menjadi senjata yang sangat ampuh bagi bagian promosi, marketing, dan tentunya bagian produksi.

Semoga segera beredar bukunya di Jakarta.....

Minggu, 24 Oktober 2010

Bagaimana Menentukan Harga Jual Buku???

STRATEGI
PENENTUAN HARGA JUAL BUKU

Buku, menurut beberapa praktisi yang sudah bertahun-tahun menggelutinya merupakan salah satu perwujudan industri kreatif. Berbeda dengan saudara pendukungnya, “percetakan”, mesin pada industri buku adalah orang, sedangkan pada percetakan tentunya mesin cetak itu sendiri.
Dengan adanya perbedaan “mesin” tersebut, tentu saja ada banyak perbedaan strategi dalam menjalankannya. Salah satunya adalah strategi dalam menetapkan harga jual produk. Jika mesin yang menghasilkan produk tersebut adalah “mesin” dalam arti yang sebenarnya, penghitungan harga jual dapat dilakukan dengan program komputer yang sudah pasti, tinggal memasukkan variabel-variabel yang menyertainya. Misalnya kenaikan harga kertas, tinta, gaji pegawai dll. Sementara itu, penetapan harga jual buku tidak bisa ditetapkan demikian. Ada “rasa” yang menyertai penghitungannya agar harga jual produk tepat dan optimal, tidak sekadar “berapa modal/biaya yang dikeluarkan”.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, ada suatu benang merah yang bisa ditarik (tentunya tidak sampai putus ya…he..he…) sebagai strategi penetapan harga jual sebuah buku. Berikut benang merah tersebut.

A. Cost-based Pricing
Hanya berpatokan pada biaya yang dikeluarkan dalam produksi buku. Biaya tersebut menyangkut biaya cetak, film, redaksi, dan bonus. Buku-buku yang harga jualnya memakai strategi ini biasanya buku standar dengan tema standar, belum ada pesaing, “tidak mudah ditiru pesaing”, dan pasar tidak terlalu sensitif harga. Intinya asal tidak rugi…..tanpa memperhitungkan apa pun, baik kemampuan daya beli pada produk bersangkutan, value-nya bagi pembeli, maupun tingkat persaingan.

B. Competitor-based Pricing
Berpatokan pada harga pesaing dengan tetap mempertimbangkan faktor-faktor:
- Nilai tambah buku
- Sosok dan tampilan buku
- Tidak rugi
Buku-buku pada kategori ini umumnya adalah buku yang sudah ada pesaingnya di pasaran. Sebelum memulai penyusunan buku kategori ini sebaiknya penerbit benar-benar memperimbangkan faktor-faktor di atas dan benar-benar melakukan efisiensi produksi agar dapat dikejar harga jualnya serendah mungkin di bawah harga pesaing dengan kualitas di atas pesaing….(pusing ya…….)

C. Value-based Pricing
Buku dijual dengan harga di atas cost pricing karena diyakini buku tersebut memiliki kekuatan jual bagus karena memang memberikan nilai guna bagi pembelinya. Biasanya buku kategori ini merupakan kategori tema unik yang belum ada di pasaran, pesaing tidak bisa mengikuti, penulis memiliki nilai jual, ada tujuan tertentu dari penerbit….(bukan tujuan iseng lho……), dll.

D. Market-based Pricing
Penentuan harga dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi pasar. Sangat disadari bahwa orientasi produksi sebuah buku adalah kebutuhan pasar. Dengan demikian pengetahuan tentang kondisi pasar mutlak harus diketahui. Strategi penentuan harga berdasarkan pasar ini sangat dipengaruhi oleh demand dan psikologi pasar. Terkait dengan demand, penerbit buku umumnya akan memberlakukan harga khusus ketika supply jauh lebih besar dari demand (ITO besar melebihi kebijakan perusahaan), dikenal dengan harga buku obral.
Sementara itu, psikologis pasar terkait dengan segmentasi yang ditetapkan oleh perusahaan. Harga jual akan sangat mempertimbangkan faktor geografi, psikografi, demografi, dan perilaku konsumen.

Selasa, 22 Januari 2008

Work is Sacred

Working must be beneficial and valuable
Bekerja harus bermanfaat dan bernilai.
Orang yang akan menabur sedikit akan menuai sedikit. Dan orang yang menabur banyak,akan menuai banyak juga.