Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label catatan inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Mei 2016

Mengenal Bentuk Komunikasi Dalam Tim




Kali ini kita akan diskusi mengenai bentuk-bentuk komunikasi dalam sebuah tim atau organisasi dan bagaimana kira-kira implementasi dan akibat dari bentuk komunikasi tersebut.  Rujukan akan tipe-tipe ini adalah 5 gaya komunikasi menurut Steward L.Tubbs dan Sylvia Moss. Apa sajakah itu?
 Tidak hanya satu gaya komunikasi yang bisa dipakai, seorang pemimpin harus mampu membedakan dan menggunakannya sesuai goal dari komunikasi dilakukan.

Kamis, 23 April 2015

PARADOKS GAJI & BENEFIT

Bangga dan senang rasanya ketika obrolan di markas sudah berkembang ke pengetahuan-pengetahuan manajemen... Gak melulu membahasa omzet dan batu akik. Gak tahu kesurupan setan apa, pulang-pulang dari roadshow Sumatera, salah satu partner saya ini (sebut saja namanya si SIGIT) jadi keranjingan mengamati hal-hal yang berbau manajemen dan mengajak diskusi....kadang berdebat juga sih.... SERU!
Mungkin saja, si Sigit ini di Sumatera ketemu rekan-rekan kelas dewa pada bidangnya.....

Jumat, 17 April 2015

CATATAN SEORANG MANAJER



Manajer yang “hebat” tentunya yang berhasil melakukan perubahan besar dan berkontribusi dalam memimpin pencapaian keberhasilan tim yang dipimpinnya.  Secara alami dia berhasil menggerakkan anggota tim dan membawa mereka ke proses pencapaian tujuan secara kontinyu.

Disarikan dari berbagai sumber dan hasil pelatihan yang pernah saya ikuti, mungkin beberapa catatan ini bermanfaat untuk menjadi Great Manager. Mari kita belajar bersama.

CATATAN SEORANG LEADER



Setelah lama tidak corat-coret.... Gak ada angin, gak ada geledek.... Eh, tiba-tiba ingin iseng lagi...

---))- 
Setiap tim pasti butuh leader. Semakin besar sebuah tim, maka akan semakin besar pula leadership diperlukan. Dan sepenuhnya kita sadar bahwa setiap dari kita memiliki gaya leadership yang berbeda. Menurut saya sendiri, tidak ada yang benar dan salah dalam gaya leadership masing-masing orang. Yang menjadi pembahasan tentu bukan salah dan benar ini, namun lebih ke “seperti apa tim yang kita pimpin”.
Ketika berpikir tentang cara terbaik untuk memimpin sebuah tim, kita harus mempertimbangkan beberapa faktor yang berbeda, dan tentunya akan sangat mudah memilih pendekatan yang salah. Ketika hal ini terjadi, maka moral, efektivitas, dan produktivitas akan memburuk. Sebuah terori leadership bisa saja membantu kita mengidentifikasi pendekatan yang efektif dalam kepemimpinan, berdasarkan apa yang anggota tim inginkan dan situasi kita sendiri saat ini.
Seorang kawan pernah bercerita bahwa setiap leader mempunyai tanggung jawab, yakni membantu anggotanya mencapai tujuan (goal), mendukung dan memotivasi mereka. Sebagai seorang pemimpin kita dapat melakukannya dengan cara:
  1. Membantu Tim mengidentifikasikan dan menggapai tujuan
  2. Membersihkan hambatan dan halangan sehingga kinerja tim akan meningkat
  3. Menawarkan apresiasi dan imbalan yang sesuai dengan pencapaian
Dengan tanggung jawab tersebut maka kita dapat memilih dan menyesuaikan kriteria leadership yang dipergunakan dalam mengelola tim.

1.  Beban Tugas Tim yang Berulang dan Penuh Tekanan
Ketika beban tugas anggota tim selalu bersifat pengulangan, saya rasa seorang leader harus berfokus pada hubungan personal dengan tim. Kita harus dapat menunjukkan kepekaan terhadap kebutuhan anggota tim individu, dan kita dapat mempertimbangkan ketertarikan terbesar anggota tim kita. Gaya leadership seperti ini adalah yang terbaik manakala diperuntukkan bagi tugas-tugas yang berulang atau penuh tekanan sehingga anggota tim tidak merasa diperas dan ditekan. Gaya kepemimpinan ini disebut Supportive Leadership.

2.  Beban Tugas Tim yang Tidak Terstruktur
Beban kerja yang seperti ini lebih tepat dipimpin dengan gaya Direct Leadership (Langsung). Kita berkomunikasi pada semua anggota tim langsung berbicara mengenai tujuan dan harapan, serta pemberian/instruksi tugas yang jelas. Gaya ini paling tepat diterapkan bila beban tugas tidak terstruktur, atau ketika tugas yang kompleks dan anggota tim yang kurang berpengalaman.

3. Beban Tugas yang Komplek dan Tim sudah Berpengalaman
Ketika beban tugas yang kita berikan kompleks dan anggota tim kita sudah punya pengalaman, gaya “partisipasi” saya rasa bisa kita terapkan. Kita fokus pada partisipasi bersama setiap anggota. Kita meminta pendapat tim kita, dan  juga mempertimbangkan ide-ide dan keahlian mereka sebelum membuat keputusan. Dengan semakin “diorangkan” setiap anggota tim yang sudah tahu cara menjalankan tugasnya hanya butuh disentil dengan meminta dan memberikan mereka umpan balik. Gaya ini bisa disebut Partisipatif Leadership.

4.  Beban Tugas yang Menjemukan dan Kurang Menarik bagi Anggota Tim
Beban tugas yang demikian akan membuat tim kita kehilangan motivasi bekerja. Sebagai leader kita bisa menerapkan “Kepemimpinan Berorientasi Prestasi”. Kita menetapkan tujuan yang menantang untuk tim, kita buat standar yang tinggi untuk semua orang, dan kita berikan reward atas prestasi yang dicapai. Gaya ini bekerja paling baik bila anggota tim kurang termotivasi atau kurang tertantang dalam pekerjaan mereka.

Minggu, 12 Desember 2010

Menyadap Ilmu Manajemen Binatang

Masyarakat kita ternyata menerapkan metafora yang diilhami oleh binatang. Jika bicara Indonesia, entah benar apa tidak, banyak nama-nama tokoh yang tercatat di sejarah memakai nama binatang. Sebut saja, Gajah Mada, Lembu Sora, Hayam Wuruk, Lambung Mangkurat (dari kata lambu-lembu), Nara Singha Murti, Tiung Wanara, dll. Mungkin nama-nama tersebut untuk menggambarkan karakter tokoh bersangkutan.

Berkembang ke zaman modern, nama binatang digunakan sebagai nama merk bisnis, sebut saja Toyota Kijang, Mitsubishi Kuda, Isuzu Panther, Kacang Garuda, Merpati Airlines, Garuda Airways, Kacang Dua Kelinci, Kecap Bango, dll. Binatang dipakai juga dalam logo perusahaan atau organisasi, misalnya kuda laut (pertamina lama), rajawali (RCTI), ikan terbang (Indosiar), banteng (PDIP), dll. Logo binatang ini mungkin untuk menggambarkan karakteristik masing-masing organisasi tersebut.

Bahkan istilah-istilah populer juga menggunakan metafora binatang. Dalam bidang ekonomi, pasar lesu diistilahkan dengan BEARISH, pasar bergairah diistilahkan dengan BULLISH. Masih segar dalam ingatan kita kejadian CICAK dan BUAYA, atau orang seperti Gayus disebut TIKUS-TIKUS Kantor.

Bukan bermaksud belajar dari binatang, tetapi lebih mengambil perumpamaan dari sifat dan karakter binatang yang kemudian kita metaforakan menjadi "lesson learned" dari fenomena binatang. Personal yang cerdik dan banyak akal mungkin bisa dimetaforakan sebagai kancil, personal yang licik dan susah dipegang mungkin diperumpamakan sebagai ular, dan orang yang kuat dan tangguh mungkin dikiaskan sebagai banteng.

Begitu juga dalam organisasi, tim yang kompak dan memiliki kerjasama yang bagus disamakan dengan lebah, semut, atau penguin. Tim yang penuh perhitungan, disiplin, dan cepat berindak jika sudah pasti disamakan dengan buaya. Tim yang cerdik, licin, dan cepat mengantisipasi perubahan disamakan dengan tikus.

Belajar dari buku Animal Based Management, beberapa karakter binatang ternyata bisa digunakan untuk mempelajari karakteristik/strategi organisasi dan perusahaan besar yang mungkin bisa dijadikan pembelajaran untuk diterapkan di organisasi/perusahaan kita.

1. Bermusyawarah, kolaboratif, keputusan kolektif, diperumpamakan sebagai PENGUIN. Prinsip kerja sama tim seperti ini ternyata diterapkan oleh Wikipedia, YouTube, Wal-Mart, dan Linux.

2. Bahu membahu, bekerja kompak dan tim yang solid, tetapi tetap menerapkan kompetisi internal dengan semangat tetap saling menguntungkan (win-win, bukan zero-sum) diperumpamakan sebagai SEMUT. CNI, Coke dan Pepsi, Esia mungkin beberapa perusahaan yang menjalankan prinsip ini.

3. Berani bertindak (memulai) dan memiliki semangat bebas dari tekanan dan kondisi yang ada dikiaskan sebagai BURUNG. Dengan kemapuan terbang dan jangkauan pandangan dari atas, diibaratkan burung memiliki kebebasan menggapai mimpinya. Dengan melihat ke bawah yang semuanya terlihat kecil, terbang boleh jadi mendatangkan perasaan supremasi. Perusahaan yang tepat dengan filosofi burung adalah Mustika Ratu dan Blue Bird ketika mulai membangun bisnisnya hingga sekarang.

4. Setia, penuh penuh perhatian, dan loyal pada konsumennya diibaratkan sebagai ANJING. Hewan ini memiliki empati yang sangat besar. Perusahaan yang mungkin menerapkan cara ini adalah Sido Muncul, Nokia, dan Lion Air. Ketiga perusahaan ini menjalankan empathic design untuk memnuhi kebutuhan pelanggannya.

5. Cerdik, cepat melakukan antisipasi, selalu bergerak keluar dari comfort zone, dan siap menghadapi perubahan, cocok dengan karakteristik TIKUS. Dalam buku Who Moved My Cheese? Dapat ditarik pelajaran bahwa perubahan tak terelakkan, yang bisa dilakukan untuk terus bertahan hanyalah cepat melakukan antisipasi dan bertindak untuk mengubah situasi. Perusahaan yang memiliki karakteristik seperti ini adalah Apple, Amazon, dan Es Teler 77.

Dan masih banyak lagi metafora-metafora dari binatang yang bisa kita sadap ke dalam penerapan ilmu manajeman. Termasuk yang manakah organisasi/perusahaan Anda?

Semoga bermanfaat.

Minggu, 24 Oktober 2010

Bagaimana Menentukan Harga Jual Buku???

STRATEGI
PENENTUAN HARGA JUAL BUKU

Buku, menurut beberapa praktisi yang sudah bertahun-tahun menggelutinya merupakan salah satu perwujudan industri kreatif. Berbeda dengan saudara pendukungnya, “percetakan”, mesin pada industri buku adalah orang, sedangkan pada percetakan tentunya mesin cetak itu sendiri.
Dengan adanya perbedaan “mesin” tersebut, tentu saja ada banyak perbedaan strategi dalam menjalankannya. Salah satunya adalah strategi dalam menetapkan harga jual produk. Jika mesin yang menghasilkan produk tersebut adalah “mesin” dalam arti yang sebenarnya, penghitungan harga jual dapat dilakukan dengan program komputer yang sudah pasti, tinggal memasukkan variabel-variabel yang menyertainya. Misalnya kenaikan harga kertas, tinta, gaji pegawai dll. Sementara itu, penetapan harga jual buku tidak bisa ditetapkan demikian. Ada “rasa” yang menyertai penghitungannya agar harga jual produk tepat dan optimal, tidak sekadar “berapa modal/biaya yang dikeluarkan”.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, ada suatu benang merah yang bisa ditarik (tentunya tidak sampai putus ya…he..he…) sebagai strategi penetapan harga jual sebuah buku. Berikut benang merah tersebut.

A. Cost-based Pricing
Hanya berpatokan pada biaya yang dikeluarkan dalam produksi buku. Biaya tersebut menyangkut biaya cetak, film, redaksi, dan bonus. Buku-buku yang harga jualnya memakai strategi ini biasanya buku standar dengan tema standar, belum ada pesaing, “tidak mudah ditiru pesaing”, dan pasar tidak terlalu sensitif harga. Intinya asal tidak rugi…..tanpa memperhitungkan apa pun, baik kemampuan daya beli pada produk bersangkutan, value-nya bagi pembeli, maupun tingkat persaingan.

B. Competitor-based Pricing
Berpatokan pada harga pesaing dengan tetap mempertimbangkan faktor-faktor:
- Nilai tambah buku
- Sosok dan tampilan buku
- Tidak rugi
Buku-buku pada kategori ini umumnya adalah buku yang sudah ada pesaingnya di pasaran. Sebelum memulai penyusunan buku kategori ini sebaiknya penerbit benar-benar memperimbangkan faktor-faktor di atas dan benar-benar melakukan efisiensi produksi agar dapat dikejar harga jualnya serendah mungkin di bawah harga pesaing dengan kualitas di atas pesaing….(pusing ya…….)

C. Value-based Pricing
Buku dijual dengan harga di atas cost pricing karena diyakini buku tersebut memiliki kekuatan jual bagus karena memang memberikan nilai guna bagi pembelinya. Biasanya buku kategori ini merupakan kategori tema unik yang belum ada di pasaran, pesaing tidak bisa mengikuti, penulis memiliki nilai jual, ada tujuan tertentu dari penerbit….(bukan tujuan iseng lho……), dll.

D. Market-based Pricing
Penentuan harga dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi pasar. Sangat disadari bahwa orientasi produksi sebuah buku adalah kebutuhan pasar. Dengan demikian pengetahuan tentang kondisi pasar mutlak harus diketahui. Strategi penentuan harga berdasarkan pasar ini sangat dipengaruhi oleh demand dan psikologi pasar. Terkait dengan demand, penerbit buku umumnya akan memberlakukan harga khusus ketika supply jauh lebih besar dari demand (ITO besar melebihi kebijakan perusahaan), dikenal dengan harga buku obral.
Sementara itu, psikologis pasar terkait dengan segmentasi yang ditetapkan oleh perusahaan. Harga jual akan sangat mempertimbangkan faktor geografi, psikografi, demografi, dan perilaku konsumen.

Selasa, 22 Januari 2008

Work is Sacred

Working must be beneficial and valuable
Bekerja harus bermanfaat dan bernilai.
Orang yang akan menabur sedikit akan menuai sedikit. Dan orang yang menabur banyak,akan menuai banyak juga.